MELANGUN
Cerpen : Purhendi



Bulan purnama merah saga. Darah Steve mengalir perlahan ke kepalanya. Terus membumbung ke awan. Darah itu kemudian menggejolak, meluncur kembali menuju ubun-ubunnya. Terus menjalar ke bawah. Lantas tertahan begitu saja di bagian panggulnya. Ia berputar-putar di sana seperti angin puting beliung. Seluruh syaraf halusnya berkeriak. Steve terpejam. Ada tarian Aborigin di benaknya. Namun matanya toh menangkap tubuh Meliang. Tubuh yang dibalut selembar kain panjang itu pun kemudian menggelinjang tertahan di bawah purnama merah saga. Nafas dan mata Steve kian memburu untuk beberapa saat. Gerisik angin dan rumputan menjadi musiknya. Dua nafas lantas menyobek-nyobek malam. Kemudian senyap. Sesekali, masih terdengar sisa desah nafas Steve dan Meliang yang purba.
Setelahnya, barangkali ada rasa sesal pada Steve, terlebih Meliang. Namun Steve masih rebahan di rerumputan. Sementara Meliang beringsut membungkus badannya, sedikit merapikan rambutnya yang terurai sampai punggung. Selanjutnya ia bergegas menuju sesudungon yang telah hampir dua tahun ini ditinggalinya.
Malam akhirnya berganti siang. Steve menggeliat ketika sinar hangat matahari pagi mencium wajahnya. Ia tidak beranjak dari tempat rebahannya semalam, beralas tikar pandan, beratap langit. Ia masih mengingat kejadian semalam. Antropolog muda dari Australia itu pun tersenyum sejenak sambil menggeleng perlahan. Sambil mengusap wajahnya, ia bangkit, langkahnya terus menuju perigi yang tidak jauh di hadapannya. Di sana, ternyata telah ada beberapa anak Suku Anak Dalam mandi sambil bercanda-canda. Meliang juga ada dengan seluruh badannya yang basah, dengan kain semalam yang masih membungkus badannya. Namun kali ini, senyum Meliang agak kaku menatap mata Steve, tidak seperti biasanya. Steve pun mencoba bersikap biasa, terus menceburkan wajahnya begitu saja pada alir perigi. Sejuk, bahkan terasa demikian dingin.
Sudah hampir enam bulan Steve berada di wilayah itu, tinggal pada sebuah sesudungon bersama Suku Anak Dalam. Selain melakukan aktivitas wajibnya sebagai peneliti, ia pun dengan sukacita mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-anak di sana. Sesudungon yang ditinggalinya sendiri merupakan hasil gotong royong masyarakat di situ, atas perintah bapaknya Meliang, Tengganai, yang menjadi tetua di warganya.
Selama masih menjadi dosen di Australia, Steve--yang kini telah memasuki usia ke-28--lumayan memahami dan mampu bertutur kata bahasa Indonesia. Ketika sampai di Jambi, komunikasinya pun lancar dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Bahkan dengan mantap pula bahwa ia ingin tinggal bersama Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas selama melakuan penelitiannya.
Setelah melakukan adaptasi sekitar satu bulan dengan ditemani seorang petugas dari Pemerintah Daerah Jambi, Steve benar-benar mantap untuk tinggal bersama Suku Anak Dalam. Steve diserahkan sepenuhnya kepada Tengganai, tetua di kelompok suku itu.
Sebagai tetua, Tengganai sangat disegani warganya. Istrinya bernama Melantang.
Ia memiliki dua anak. Anak yang pertama perempuan, bernama Meliang. Gadis ini tengah memasuki usia 16 tahun. Namun raut muka dan penampilannya tampak jauh lebih dewasa. Mungkin karena ia terbiasa hidup di rimba dengan bekerja keras. Meskipun demikian, wajah hitam manisnya tetap saja tampak, terutama kalau ia tersenyum simpul. Sedangkan anak yang kedua laki-laki, bernama Sembiyang. Umurnya baru sekitar 9 tahun.
Demikian selanjutnya, Steve mengikuti segala kegiatan masyarakat sekitarnya yang hanya beberapa belas keluarga. Kadang ia ikut berburu. Kadang ikut pula menonda menyusuri salah satu Anak Sungai Batanghari. Pernah suatu ketika ia mendapat seekor ikan tengiri hampir sebesar betisnya. Ia sangat takjub. Ikan itu lantas dibakarnya saat ia sampai di sesudungon tempat tinggalnya.
Pada bulan ketiga, Steve sudah dapat berbincang menggunakan bahasa penduduk setempat meskipun masih terbata-bata. Kalaupun tidak paham, paling dia menggunakan bahasa isyarat. Lantas mereka saling menertawai ketidakmengertian masing-masing.
Steve merasa kian hari kian banyak hal menarik didapatnya, baik dari pengamatannya terhadap warga Suku Anak Dalam maupun pengalaman yang dijalaninya. Selain berburu dan menonda, ia pun pernah pula ikut ‘mengasap’ sarang lebah madu. Saat itulah kedua tangannya disengat beberapa lebah. Ketika itu, dia turut memanen madu di pohon sialang, namun ia mengabaikan perintah Tengganai untuk meluluri tangannya dengan madu yang telah dibawanya. Risikonya jelas, saat tangannya merogoh sarang lebah madu yang telah diasap yang tergantung di pohon sialang, tak pelak lagi, beberapa lebah madu yang masih di sarang itu segera menyambar tangannya. Beberapa menit kemudian dia merasakan tangannya pun terasa berat bertambah beberapa kilogram.
“Pohon-pohon sialang hampi tak lagi ada. Orang-orang kota dan Orang Terang menebanginya dengan sesuka hati. Entah untuk dijual kayunya dijadikan kayu bakar, entah untuk dibuburkan di pabrik kertas. Kami tak tahu. Atau mungkin kami memang tak peduli. Sebab semua itu bukan milik kami. Pepohonan itu adalah milik alam. Kami sendiri bisa jadi milik alam yang suatu waktu akan ‘dihabisi’, atau harus terpaksa dimukimkan. Suatu saat, mungkin kami akan berleleran di pinggir-pinggir ladang dan bibir hutan yang telah bertuan untuk sekadar menumpang istirahat atau mencari makan.” demikian tutur Tengganai seperti pada dirinya sendiri sambil melulurkan madu pada tangan Steve yang mulai membengkak.
“Pohon sialang itu apa?” tanya Steve sambil meringis menahan sakit kedua tangannya.
Sialang itu jenis pohon tertentu yang biasanya disukai lebah madu untuk bersarang. Di antaranya yaitu pohon mangris, lagan, dan paoh ruso.” Steve hanya mengangguk-angguk meskipun tidak mengerti. “Dulu, jika musim sedang bagus, dalam satu tahun kita bisa 3 kali memanen madu. Tiap pohon sialang yang banyak sarang lebahnya bisa mencapai 40 sampai 50 liter madu.” lanjut Tengganai. Puntung rokok yang terus mengepul di jepitan bibirnya dibiarkan begitu saja, sedikit demi sedikit dihisap dan diemut-emut kedua belah bibirnya. Asap putih pun sesekali mengepul dari celah bibir dan lubang hidungnya.
Tengganai sendiri sebenarnya termasuk tetua yang ‘intelek’ di mata warganya. Meskipun ia tidak dapat membaca dan menulis, namun pengetahuannya cukup lumayan, terutama perihal Orang Terang. Yang dimaksud dengan Orang Terang bagi Suku Anak Dalam adalah orang-orang atau masyarakat umum yang bermukim, baik di desa maupun di kota. Tengganai berpengetahuan luas dan memahami bahasa Orang Terang karena sudah sejak lama ia sering bertemu dengan mereka. Ia telah beberapa kali bertemu dengan pejabat pemerintah yang mencoba berdialog untuk menawarkan pemukiman. Namun ia selalu menolak untuk masalah yang satu itu. Ia dan warganya tetap memilih nomaden, hidup dari satu tempat ke tempat lainnya. Karena itulah, para pejabat yang kecewa sering memakinya dengan umpatan ‘dasar orang Kubu!’
“Kami memang orang yang terbelakang. Kami memang bodoh. Tapi jangan sebut kami kubu, sebab bagi kami sebutan itu merupakan suatu penghinaan, sebab itu mengarah ke pembinatangan. Ya, barangkali, seperti halnya orang-orang Tionghoa yang tidak mau disebut ‘Cina’.” ujar Tengganai suatu ketika di hadapan Steve.
Binatang buruan atau madu pun sering mereka jual kepada Orang Terang. Kadang mereka membarter begitu saja dengan bahan makanan atau beberapa pak rokok kretek dan tembakau. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat umum. Madu murni yang satu botol besar misalnya, paling tinggi mereka jual dengan harga sepuluh ribu rupiah. Sedangkan harga jual oleh masyarakat umum akan mencapai dua atau tiga kali lipatnya. Itu pun kadang sudah dicampur pula dengan air gula merah atau air nanas sebelum dijual kembali pada orang lain.
Waktu terus melaju. Hari-hari datang dan pergi. Matahari dan bulan muncul silih berganti. Steve kadang merasa sunyi. Kadang terkenang keramaian kota Melbourne. Kadang begitu ingin ia mendekap tubuh gadis-gadis di kota itu yang tanpa basa-basi lagi dapat saling memagut di tempat umum. Kalau sudah demikian, paling ia tersenyum sendiri, meski sesekali pikirannya melayang pada Meliang yang kian dikenalnya.
Demikian halnya Meliang, meskipun kehidupannya selalu di rimba raya, meskipun ia tidak bisa membaca dan menulis, ia pun seorang anak manusia yang kian dewasa. Naluri manusianya pun kadang menerawang entah ke mana. Terlebih ketika suatu malam ia terbangun mendengar sedikit kegaduhan di sesudungon-nya, ternyata matanya menangkap kedua orang tuanya bercumbu dalam kegelapan. Semenjak itu, rasa aneh di dadanya pun sering bergejolak tidak menentu. Datang bulannya sudah lama dimulai, entah kapan, ia sendiri lupa.
Meliang pun sadar, Steve jelas-jelas Orang Luar. Namun seringnya bertemu dengan Steve membuat perasaan aneh dan berdebar sering pula menjalari kalbunya. Sering ia membuang perasaannya jauh ke belantara. Namun semakin perasaan aneh itu mencoba untuk dibuang, semakin tatap mata dan senyum ramah Steve hadir membayang.
Ya, sampai akhirnya datang malam itu, malam purnama merah saga. Malam di mana dua anak manusia tidak dapat membendung hasrat dan nalurinya. Malam di mana mereka akan selalu saling mengenang atau justru menyesalinya!
Seiring melajunya waktu, pertemuan Steve dan Meliang di malam hari pun kian kerap. Meski bulan tak purnama dan tak merah saga, namun kemerlip bintang cukup menjadi saksinya.
Pada akhirnya, Meliang merasakan sesuatu yang lain pada dirinya, pada perutnya. Steve pun mencoba memahami. Namun justru kemudian kedua orang tua Melianglah yang bereaksi keras. Mereka merasa malu, terlebih orang tua Meliang yang berkedudukan sebagai tetua warganya.
Tak dapat dielak lagi, musyawarah adat pun dilakukan. Keputusannya, Steve harus mengawini Meliang. Selain itu, Steve pun harus membayar denda adat yaitu berupa 500 potong kain.
“Inilah hukum adat kami, Pucuk Undang Nang Delapan. Tidak lapuk kareno vhujan, tidak lekang kareno paneh.” tandas Tengganai. “Tak mau kami dikutuk Moyang Segayo, atau diazab Penguasa Alam.”
Steve pun menyetujui dan siap menyerahkan segala harta benda yang dimilikinya jika tidak dapat menebus 500 potong kain. Sebagai seorang antropolog, ia mencoba memahami benar adat istiadat mana pun. Meski dalam keadaan bingung, kini dialah yang harus menjalani salah satu hukum adat suatu suku yang mungkin selama ini hanya dikenalnya lewat buku-buku.
Selanjutnya Tengganai berdendang. Syair itu diambilnya dari Seloka Suku Anak Dalam. Ada perasaan merinding di dada Steve. Suara dendang yang demikian baru didengarnya sekali ini selama ia berada di tempat ini, bahkan mungkin tidak ada di sudut kota atau belantara mana pun di negeri kelahirannya.
Oiii, inilah kami
Betubuh onggok
Bepisang cako
Beatap tikai
Bedinding baner
Melemak buah betatal
Minum air dari bonggol kayu

Oiii, inilah kami
Bekambing kijang
Bekerbau tenu
Besapi ruso

Sekitar tiga bulan setelah ritual perkawinan itu, datang kabar tidak sedap ke telinga Steve dan ‘keluarganya’. Di pusat kota Jambi dikabarkan sedang terjadi demo besar-besaran. Beratus mahasiswa dan Suku Anak Dalam dari wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat melakukan demonstrasi. Bahkan terdengar juga adanya isu sweeping terhadap semua warga Australia dan Amerika yang sedang melakukan penelitian terhadap Suku Anak Dalam di beberapa wilayah.
Si pembawa kabar itu menceritakan bahwa telah terjadi perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis Suku Anak Dalam di wilayah Kerinci Seblat. Perbuatan biadab itu, kabarnya, dilakukan oleh seorang peneliti asal Australia. Si pelaku tampaknya melarikan diri diam-diam saat malam hari setelah hukum adat dijatuhkan.
Selain itu--meskipun sudah sangat sering dan biasa--muncul juga isu lain, yaitu adanya dugaan bahwa kerusakan hutan banyak timbul karena pembukaan lahan secara sembarangan oleh Suku Anak Dalam dengan cara membakar belukar yang mengakibatkan kebakaran ladang dan hutan, merembet ke mana-mana. Karena itu, dalam waktu tidak lama lagi warga Suku Anak Dalam diisukan akan dipaksa dibina atau dimukimkan.
Setelah menerima kabar itu dari orang yang dulu mengantarkan Steve, Tengganai dan warganya mengadakan rapat. Inti keputusannya, mereka harus kembali melangun dalam beberapa hari ini.
Dengan penuh ketidakmengertian dan ketidakberdayaan, Steve pun hanya bisa diam. Gerak jarum jam dirasakannya berlari demikian cepat. Saat perpisahan yang telah disepakati pun akhirnya tiba juga dan tak bisa dielak lagi.
“Kami harus kembali melangun. Kembali mencari tempat yang masih dapat dikatakan belantara, itu pun jika masih ada. Kembali mencari rerimbun pohon-pohon sialang, dan ini pun jika masih ada pula. Biarlah Meliang hidup bersama kami, bersama alam. Demikian juga dengan anak yang dikandungnya.” ucap Tengganai yakin dan mantap. Warga lainnya hanya diam. Ada yang menunduk pasrah. Demikian halnya Meliang, ia tak kuasa menegakkan kepalanya. Wajahnya yang telah basah oleh air mata terus menunduk, memandang kosong ke rerumputan yang ada di antara kakinya yang telanjang.
“Kami kian sadar, bagaimaan pun juga, kamu itu Orang Luar, Orang Terang, orang yang memang sama sekali asing bagi kami. Kami tahu, kamu itu orangnya baik. Tapi hukum alam dan adat kita memang jauh berbeda. Biarlah kami tetap hidup dengan cara kami. Biarlah alam yang akan tetap membimbing kehidupan kami selanjutnya.”
Siang bergulir teramat cepat. Matahari samara-samar di balik awan kelabu, ditirai rinai gerimis yang tipis.
Keluarga Meliang beserta beberapa belas keluarga lainnya terus menyuruk menuju belukar. Yang laki-laki kebanyakan hanya memakai cawat dan ikat kepala. Hanya beberapa orang saja yang mau memakai celana pendek dan kaos oblong, itu pun sudah begitu lusuh. Sedangkan para perempuan menggunakan kain panjang sebagai ‘pakaian’ pembungkus separuh dadanya sampai ke betis. Parang dan arit mereka jinjing di tangan. Ada juga yang menyampirkannya di pinggang dengan dililiti tali yang dibuat dari kulit pepohonan. Sedangkan tombak mereka panggul dengan ‘cangklongan’ pakaian dan sisa makanan menggelantung di ujungnya.
Steve hanya bisa diam memandang kepergian mereka. Pundak dan punggungnya tampak sedikit melonjak-lonjak. Kesedihan yang demikian dalam tak bisa ditahannya. Air mata pun dibiarkannya begitu saja meluberi kedua belah pipi. Tak menyangka ia akan mengalami peristiwa demikian serta merasakan kesedihan begitu rupa. Ia tak dapat berucap sepatah kata pun. Ia bahkan tak mengerti mengapa ia menangis. Apakah karena rasa cintanya pada Meliang atau karena anak yang dikandung ‘istrinya’ itu?
Ia tak tahu pasti. Yang pasti, kini ia merasa demikian kehilangan! Hatinya mulai terasa sunyi, sesunyi sesudungon yang ditinggal melangun para penghuninya!

*

Palembang, Mei 2007





Catatan


Melangun : Pindah tempat tinggal (nomaden) karena ada warga meninggal, menghindari
musuh, dan membuka ladang baru.

Menonda : Memancing dengan cara menyeret umpan dengan kedalaman dan jarak
tertentu dari atas perahu yang terus berjalan (trolling). Yang didapat saat
menonda biasanya ikan tenggiri, kerapu sunu, atau kuwe. Sedangkan ikan
kecil yang dijadikan umpan pada mata pancing biasanya ikan balo, kerisi,
atau selar.

Saga : Perdu merambat, termasuk suku polong-polongan (Papilionaceae), berdaun
majemuk menyirip ganjil, bunganya berwarna merah, polongnya berbentuk
lonjong, berisi 3 – 6 biji, berwarna merah berkilap dengan bercak hitam. Ada
beberapa jenis saga, di antaranya yaitu saga biji, saga rambat (Abrus
precatorius), saga gajah yaitu saga yang pohonnya besar dan tinggi, bijinya juga
besar (Pithecolobium ellipticum), dan saga pohon yaitu jenis saga yang berbatang
(Adenanthera microsperma).

Sesudungon : Bangunan kayu hutan (rumah gubuk), berdinding kulit kayu, dan beratap
daun ‘serdang menal’ (tumbuhan palm yang hidup di tanah bencah dan
daunnya dapat dibuat atap/Pholidocarpus sumatrana).

Sialang : Jenis pohon tertentu yang biasanya disukai lebah madu untuk bersarang. Di
antaranya yaitu pohon mangris, lagan, dan paoh ruso. Pada musim madu yang
baik, satu tahun bisa tiga kali musim madu dan tiap pohon sialang dapat
mencapai 40 – 50 liter madu murni.

Cerpen di atas dimuat dalam buku antologi SENARAI BATANGHARI, terbit di Jambi tahun 2008.